Skip to content

Podokoyo, Desa Wisata Berbasis Kebudayaan

Podokoyo, Desa Wisata Berbasis Kebudayaan

Podokoyo, Desa Wisata Berbasis Kebudayaan

Oleh : Very Yudha Lesmana

Podokoyo merupakan salah satu desa yang terpilih menjadi desa penerima manfaat dari program pengembangan Desa Wisata berbasis masyarakat oleh Stapa Center dan Sampoerna untuk Indonesia (SUI). Program ini bernama Dewi Paramastri (Desa Wisata Pasuruan Nyaman Sejuk Lestari), program yang bekerjasama dengan pemerintah kabupaten Pasuruan untuk memajukan potensi wisata desa-desa di Kabupaten Pasuruan.

Desa Podokoyo sendiri merupakan desa di Kecamatan Tosari yang telah mendapatkan SK (Surat Keputusan) Desa Wisata dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan.

Indahnya pegunungan di lereng tengger menjadi salah satu daya tarik yang dimiliki oleh Desa Podokoyo. Dalam pengelolaan wisata yang ada di Desa Podokoyo, dijalankan satu pintu melalui Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Pesona Tengger. Wisata alam desa Podokoyo terhitung lengkap, di area desa wisata ini tersedia homestay atau penginapan, Jeep Tour Bromo, dan makanan khas desa podokoyo, dan memiliki destinasi unggulan yaitu Bromo Fun Tracking.

Selain itu, Desa Wisata Podokoyo merupakan salah satu desa yang memiliki keunikan dalam segi kebudayaan dan adat istiadatnya. Seperti bulan Kapitu dalam Penanggalan Tengger, yang mana aktivitas di Gunung Bromo berhenti selama satu bulan.

Bulan Kapitu jatuh pada tanggal 24 Januari-24 Februari 2020, selain itu masih ada aktivitas keagamaan yang akan dilaksanakan dalam Bulan Februari. Seperti Hari Raya Galungan yang jatuh pada tanggal 19 Februari 2020 dan Hari Raya Suci Kuningan tanggal 29 Februari 2020.

Prosesi hari besar Agama Hindu, seperti membuat sesajen, banten, sebagai salah satu syarat ritual yang akan dilakukan, menjadi nilai tawar yang cukup unik pastinya, karena tidak banyak masyarakat yang mengetahui mengenai aktivitas yang dilakukan oleh Suku Tengger dengan mayoritas agamanya adalah Hindu.

Di Bulan Maret, Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 25 Maret 2020, yang sudah dikenal masyarakat luas, dimana sebelumnya terdapat arak-arakan Pawai Ogoh-Ogoh yang merupakan simbol raksasa kejahatan atau nafsu angkara murka yang akan ditampilkan jelang perayaan Nyepi.

Pembuatan Ogoh-Ogoh memakan waktu hampir satu bulan, yang biasanya menggunakan bahan foam, plastik atau bahan lainnya yang lunak. Setelah jadi Ogoh-Ogoh tersebut di arak dari desa masing-masing menuju kantor kecamatan, dan selanjutnya dibawa lagi ke desa untuk dibakar.

Keunikan dari Paket wisata lengkap baik dari sisi keindahan alam juga sisi kebudayaan dan adat istiadat yang ada di Desa Wisata Podokoyo ini, merupakan salah satu daya tarik yang bisa di promosikan kepada masyarakat luas yang ingin berwisata ke Gunung Bromo.

2 thoughts on “Podokoyo, Desa Wisata Berbasis Kebudayaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *